Perjuangan Sang Calon Mahasiswa part 2
Ahad, 18 Februari 2018
Pada waktu itu, aku mulai mengumpulkan berkas untuk mendaftar di STIS karena pendaftaran STIS lebih awal dibandingkan STAN. Setelah mendaftar STIS secara online, aku mulai menyiapkan diri untuk mengikuti ujian tertulis. Salah satu bentuk usahaku yaitu dengan mengikuti les khusus ujian masuk STIS di salah satu lembaga bimbingan belajar di Kediri. Pada waktu itu, aku memilih lokasi ujian di Surabaya. Sehari sebelum ujian tulis, aku bersama kedua orang tuaku dan adikku menginap di rumah saudara di Sidoarjo. Kemudian, esok paginya sekitar pukul 5 pagi, aku berangkat dari tempat saudara ke lokasi ujian diantar Ayahku. Alhamdulillah ujian tulis berjalan lancar. Ikhtiar sudah dikerjakan, tinggal tawakkalnya yang diperkuat.
Pada saat hari pengumuman SNMPTN, aku berusaha menyiapkan
diri untuk bisa ikhlas menerima apapun hasilnya. Saat itu, aku sedang bersama
seorang teman dan kami memutuskan untuk membuka hasil SNMPTN masing-masing
bersama. Hasilnya, Allah masih menginginkanku untuk berjuang lagi. Yaa, aku
tidak diterima melalui jalur SNMPTN ini. Melihat hasilnya, aku terdiam beberapa
saat, lalu aku merasa pada saat yang sama Allah menguatkanku dengan menjadikan
hati ini ikhlas dalam menerimanya. Selanjutnya, pengumuman ujian tulis tahap
pertama STIS keluar. Hasilnya, memperkuat hasil SNMPTN. Yaa, aku tidak lulus di
tahap pertama ujian masuk STIS. Saat hasil ini keluar, aku hanya berpikir bahwa
STIS sepertinya memang tidak cocok untukku karena menurutku nanti kalau aku
diterima disana, aku harus memperkuat eksakku, terutama matematika (aku
mikirnya kalo STIS hubungannya sama statistik, jadi matematikanya harus main,
gitu), padahal aku tidak begitu menyukai matematika wkwk. Aku tidak tau
pemikiran itu benar muncul dari kesadaran atas kemampuanku ataukah hanya
sebagai penguat agar aku tetap optimis. Apapun itu, yang pasti pemikirian ini
benar-benar melapangkan hati.
Pada saat itu, aku mendapatkan informasi ada
pendaftaran SPAN-PTKIN (semacam SNMPTN tapi hanya untuk UIN/IAIN/STAIN). Aku
saat itu berpikir tidak ada salahnya untuk mencoba, apalagi saat itu aku juga belum
jelas akan kuliah dimana. Akhirnya, aku memutuskan untuk mengurus berkas dan
mendaftar SPAN-PTKIN. Namun, aku tidak begitu ingat memilih jurusan apa saja waktu
itu. Setelah itu, aku mulai fokus untuk mempersiapkan diri mengikuti tes
SBMPTN. Aku mulai mengikuti les untuk mempersiapkan ujian tulis SBMPTN. Aku
juga mengurus berkas-berkas untuk mendaftar SBMPTN, yaa walaupun sebenarnya
tidak berbeda jauh dengan SNMPTN sih, dan tentunya aku juga harus membayar
biaya pendaftaran SBMPTN wkwk. Jujur saja, pada saat itu, aku bingung banget
harus mengambil jurusan apa. Sudah dua kali “gagal”, membuatku berpikir keras
kali ini, dalam hati aku selalu mengatakan bahwa aku harus berhasil kali ini. Walaupun
SBMPTN buka satu-satunya harapanku, namun aku mempunyai harapan yang cukup kuat
untuk bisa diterima melalui jalur ini. Aku mulai berpikir untuk melibatkan
orang tuaku sepenuhnya dalam pemilihan jurusanku. Saat itu tiba-tiba aku
berpikir, jangan-jangan aku dua kali “gagal” ini karena sebenarnya ada
ketidakridhaan orang tuaku di sana. Akhirnya, aku mencoba mengumpulkan
informasi tentang kampus-kampus negeri di Jawa, terutama terkait dengan program
studinya. Aku mulai me-list
jurusan-jurusan yang ada di ITS, UNAIR, UB, UNEJ, UNS, UNDIP, UGM, ITB, IPB,
UNPAD, UI, UM, dan UNY. Aku memberikan list
tersebut ke Ayahku dan meminta Ayahku untuk memilihkan tiga jurusan apapun itu
di universitas manapun yang ada di list
itu. (bersambung)
"Menyerah dan putus asa itu bukanlah pilihan bagi jiwa yang hidup"-Mei

Comments
Post a Comment