Perjuangan Sang Calon Mahasiswa part 5
Ahad, 11 Maret 2018
Antrian di shelter transjogja depan Kopma UGM setelah UTUL
UGM cukup panjang. Sehingga, aku dan ayah harus menunggu sekitar 1 jam untuk
naik transjogja. Saat itu adalah musim liburan, sehingga ketika sampai di Terminal Giwangan, kami harus menunggu lama untuk mendapatkan bus yang kosong.
Karena sebagian besar bus jurusan Surabaya langsung penuh, bahkan sebelum bus
tersebut behenti dibagian tunggu penumpang. Ayah lebih memilih untuk menunda
kepulangan beberapa jam dengan mencari bus yang tidak padat penumpang karena
ayah khawatir jika harus berdiri dalam perjalanan jauh. Kami baru medapatkan
bus setelah maghrib. Perjalanan terasa cukup lama dan Alhamdulillah kami sampai
di rumah saat subuh.
Selain mendaftar dan mengikuti UTUL UGM, aku juga mendaftar
di STAN. Aku mulai mempersiapkan berkas-berkas untuk mendaftar. Pada saat itu,
aku memilih untuk tes di Surabaya. Sebelum tes tahap pertama yaitu ujian tulis,
calon peserta harus melakukan verifikasi terlebih dahulu. Kalo ngga salah waktu
itu, verifikasi dimulai pukul 10 siang. Aku diantar ayah ke Surabaya untuk
verifikasi. Kami langsung berangkat setelah sholat subuh dengan naik bus. Kami
sampai di Terminal Bungurasih sekitar pukul 9 siang. Kemudian, kami menuju
lokasi menggunakan taksi. Aku tidak begitu ingat nama lokasinya apa, kalo tidak
salah semacam Direktorat Keuangan gitu. Pada saat kami sampai lokasi, ternyata
antrian sudah sangat panjang. Padahal, pendaftaran verifikasi belum dibuka.
Kami menunggu berjam-jam. Aku baru mendapat giliran sekitar pukul 4 sore.
Setelah aku selesai, kami langsung memutuskan untuk pulang. Awalnya, kami
pulang naik angkot untuk sampai ke daerah yang dilewati bus kota. Setelah itu, sekitar
pukul 5.30 sore, kami baru naik bus kota untuk menuju ke terminal Bungurasih.
Keadaan bus kota saat itu sangat padat. Kami sampai di Terminal Bungurasih
sekitar pukul 6.30 sore. Kami naik bus jurusan Trenggalek. Kalo tidak salah
naik Pelita Indah waktu itu. Kami baru berangkat dari Surabaya sekitar pukul 8
malam dan sampai di rumah sekitar pukul 12 malam. Sungguh melelahkan sekali,
namun ada banyak hikmah yang bisa kuambil dari perjalananku waktu itu. Rasa
sabar dan syukur terasa begitu kuat kurasakan.
Setelah verifikasi, aku mulai fokus untuk belajar materi-materi
terkait ujian STAN. Alhamdulillah, orang tuaku menawariku untuk les private.
Sungguh bersyukur, Allah memberiku orang tua yang sangat mendukungku dengan
memberiku banyak fasilitas, terutama tentang segala sesuatu yang berkaitan
dengan pendidikan. Ayahku mencarikanku dua guru (beliau adalah teman ayah) yang
akan mengajariku matematika dan bahasa inggris. Selain itu, aku juga membeli
buku soal-soal ujian masuk STAN. Semoga Allah menilai ikhtiarku tersebut
sebagai bentuk ibadah. Setiap hari, bahkan setiap selesai sholat tepatnya, aku
selalu minta kepada Allah untuk memberiku kesempatan untuk melanjutkan pendidikan
di kampus negeri yang terbaik untukku.
Beberapa hari kemudian, tepatnya H-1 ujian
tulis, aku ditemani ayah kembali ke Surabaya untuk ujian tulis. Hari itu adalah
hari pertama kami menjalankan salah satu rukun islam, yaitu puasa Ramadhan.
Saat itu penetapan awal Ramadhan berbeda, jadi sebagian orang mulai
melaksanakan puasa hari itu dan sebagian yang lain baru esok harinya. Kami
berangkat dari rumah sekitar pukul 10 pagi dengan naik bus menuju Terminal
Bungurasih. Kami sampai di Terminal Bungurasih sekitar pukul 3 sore. Kemudian,
kami naik taksi menuju lokasi ujian sekaligus mencari penginapan terdekat. Saat
itu, lokasi ujianku di GOR (lupa namanya). Sopir taksi hanya mengantarkan kami
sampai di lokasi ujian. Kemudian, aku dan ayah berjalan-jalan ke sekitar untuk
mencari masjid sekaligus mencari penginapan. Akhirnya, kami menemukan masjid
yang lokasinya tidak begitu jauh dari lokasi ujian posisinya di belakang GOR.
Setelah kami selesai sholat, ayah mengobrol dengan salah satu takmir masjid
tersebut dan menanyakan penginapan terdekat. (bersambung)
"Jika hatimu ikhlas saat berjuang, maka hatimu pun juga akan ikhlas menerima apapun hasil dari perjuangan itu"-Mei

Comments
Post a Comment