Perjuangan Sang Calon Mahasiswa part 7
Sabtu, 24 Maret 2018
Setelah pengumuman SBMPTN, aku dan orang tuaku memutuskan
untuk tidak mengikuti tes UM Undip yang sebenarnya sudah aku urus dengan baik
semua berkasnya, tinggal berangkat tes aja. Kami tidak jadi berangkat ke
Semarang karena orang tuaku sudah merasa cukup puas dengan hasil pengumuman SBMPTN. Beberapa
hari kemudian, pengumuman STAN keluar. Hasilnya, aku tidak lulus tes tulis. Aku
merasa Allah memang sudah memantapkan hatiku pada saat itu. Karena kalau seumpama
aku lulus tes tulis, tentu aku akan galau untuk melanjutkan ke tahap
selanjutnya atau tidak.
Beberapa hari setelah pengumuman tes STAN, pengumuman UTUL
UGM juga keluar. Hasilnya sama dengan STAN. Yaa, aku juga tidak lulus di UTUL
UGM ini. Bulan Ramadhan waktu itu benar-benar dipenuhi akan penantian rasanya.
Ada banyak pengumuman yang kutunggu hasilnya. Selanjutnya, pengumuman UM-PTKIN
yang keluar. Hasilnya, Alhamdulillah aku lulus di jurusan perbankan syariah
IAIN Tulungagung. Semua pengumuman dari semua ujian masuk perguruan tinggi yang
aku ikuti sudah keluar hasilnya. Saatnya aku memutuskan untuk memilih antara
Teknologi Industri Pertanian UGM atau Perbankan Syariah IAIN Tulungagung.
Sebenarnya ini bukan pilihan yang sulit mengingat saat itu aku memang ingin
kuliah di universitas negeri umum, bukan perguruan tinggi islam. Namun, aku
juga harus memastikan bahwa apa yang menjadi pilihanku juga merupakan pilihan
orang tuaku. Saat aku meminta pendapat ayah, beliau lebih memilih UGM, begitu
pun dengan ibu. Walaupun saat itu sebenarnya ibu cukup mengkhawatir jika aku
kuliah di Jogja karena walaupun aku sudah 5 tahun kos, tapi kali ini aku akan kos
yang jauh dari rumah dan tanpa ada saudara. Pada saat itu, ibu menanyakanku
apakah aku sudah siap untuk hidup jauh sendiri yang tidak setiap pekan atau
bahkan setiap bulan bisa pulang. Ibu juga memastikan kalau aku sudah siap
mengurus diriku sendiri yang nantinya kalau aku sakit, ayah dan ibu tidak serta
merta bisa langsung menjenguk dan kalau sekiranya aku ada masalah, aku sudah
siap untuk menyelesaikannya sendiri. Pada saat itu aku menjawab dengan yakin
bahwa aku sudah siap dengan semua konsekuensi hidup jauh dari orang tua. Aku merasa
bahwa 5 tahun kos di Kediri sudah cukup menjadi bekalku untuk hidup mandiri di
Jogja. Alhamdulillah, karena orang tua sudah setuju, aku mulai mengurus
berkas-berkas untuk daftar ulang.
Sejauh ini, dari awal pendaftaran SNMPTN sampai
daftar ulang masuk UGM, rasanya sudah sangat banyak biaya yang harus
dikeluarkan orang tuaku untukku. Mulai dari biaya berkas-berkas pendaftaran
(pas foto, fotocopy, map, dsb), biaya pendaftaran tes tulis, biaya transportasi
menuju lokasi ujian, biaya logistik, dan juga biaya penginapan. Sungguh, aku
bersyukur sekali Allah memberikanku orangtua yang sangat mendukungku terutama
dalam hal pendidikan. Mereka berusaha untuk selalu memenuhi kebutuhanku dengan
baik. Memberikanku banyak fasilitas mulai dari bimbingan belajar, guru les
privat, biaya yang cukup banyak untuk mengikuti berbagai pendaftaran tes tulis,
selalu menemaniku dalam setiap tes, selalu memberiku semangat dan menguatkanku
saat aku merasa gagal. Dari perjuanganku ini, aku belajar banyak hal. Pertama,
aku merasakan sekali bahwa aku harus berusaha dengan keras untuk mendapatkan
suatu hal yang berharga. Ini membuatku menjadi lebih menghargai sebuah proses
dan membuatku lebih memahami arti dari sebuah perjuangan. Kedua, aku merasakan
sekali pengorbanan orangtua untukku. Mereka tidak hanya berkorban secara
materi, namun juga waktu dan tenaga. Begitu menyentuh saat mengingat bagaimana
mereka menemaniku dalam berjuang, mendoakanku setiap saat, dan selalu mengatakan
“gapapa, berarti bukan itu yang terbaik. coba daftar lagi yang lain” saat aku
tidak lulus dalam pendaftaran yang aku ikuti. Ketiga, aku merasakan sekali
Allah benar-benar mengatur hidupku dengan baik, hanya saja aku sering lupa
untuk bersyukur, Astaghfirullah. Mulai dari Allah mudahkan keuangan keluargaku
disaat begitu banyak biaya yang harus dikeluarkan untukku, Allah juga mudahkan
dan melancarkanku pada setiap perjalananku
untuk melakukan pendaftaran, verifikasi, maupun pada saat ujian, dan juga cara yang
begitu indah rencana Allah dalam menjawab doa-doaku.
“Percayalah, rencana Allah lebih indah dari rencanamu”-Mei

Comments
Post a Comment