Perjuangan Sang Calon Mahasiswa part 1
Senin, 12 Februari 2018
Sabtu, 10 Februari 2018. Seorang adik tingkat mengirim pesan
padaku meminta izin untuk wawancara terkait tugas leadership training (salah satu acara himpunan untuk mahasiswa
baru). Kami sepakat untuk bertemu hari Ahad siang di kampus. Pukul 13.30 kami
bertemu di lobi timur. Dia memulai dengan bertanya kabar dan kesibukan yang
kujalani di semester ini. Kemudian, dia melanjutkan dengan beberapa pertanyaan
yang sepertinya memang sudah ditentukan oleh panitia leadership training, seperti nama lengkap, asal, kontribusi di
himpunan, dan hal-hal terkait jurusan. Dari beberapa pertanyaan yang diajukan,
ada satu pertanyaan yang membuatku merasa seperti sedang bernostalgia.
Pertanyaan yang dulunya ketika masih menjadi mahasiswa baru adalah pertanyaan
yang begitu sering kudengar, bahkan kujawab. Yaa, pertanyaan tentang alasan
mengapa aku berada di sini memilih jurusan ini.
Mungkin cerita tentang perjuanganku untuk masuk ke dunia
perkuliahan memang tidak sekeras, sedramatis, atau bahkan semenarik yang
dialami oleh beberapa orang. Mungkin cerita ini sudah umum sekali didengar, diketahui,
atau bahkan dialami oleh para calon mahasiswa. Namun, bagiku ini adalah salah
satu cerita dan pengalaman yang paling berkesan dalam hidupku. Ada banyak
pelajaran dan hikmah yang bisa kuambil dari perjalanan hidupku yang ini. Aku benar-benar
merasakan nikmatnya berjuang yang cukup melelahkan dan manisnya sebuah
pencapaian yang penuh rasa syukur.
Awal cerita, tepatnya tahun 2014. Saat itu aku duduk di
kelas XII sebuah Madrasah Aliyah Negeri di Kota Kediri. Yaa, aku sudah kelas
XII, artinya aku sudah harus mempersiapkan diri untuk daftar kuliah dan
mengikuti ujian nasional. Saat itu, aku tidak punya cita-cita yang pasti karena
semenjak masuk MAN aku sudah tidak ingin menjadi dokter lagi, padahal
sebelumnya menjadi dokter adalah cita-citaku sejak kecil. Aku hanya ingin
kuliah di salah satu kampus negeri di Surabaya, yaitu ITS. Pada saat
pendaftaran SNMPTN, aku punya kesempatan untuk memilih 3 jurusan di dua kampus
yang berbeda. Pilihan pertamaku adalah Teknik Lingkungan ITS, kedua Kimia ITS,
dan ketiga Kimia UNS. Ketiganya murni pilihanku sendiri tanpa konsultasi dengan
orangtua. Karena pada saat itu aku merasa orangtuaku memberikan kebebasan untuk
memilih kuliah sesuai dengan apa yang kuinginkan, dengan syarat harus di perguruan
tinggi negeri. Jujur saja, ada rasa pesimis yang menyelimuti hati, bagaimana
tidak, dari alumniku saja tidak banyak yang diterima di ITS, nilai raporku juga
ngga bagus-bagus banget terutama untuk mata pelajaran eksak, aku pun merasa sekolahku
juga bukan termasuk sekolah favorit jika disejajarkan dengan SMA sederajat di
Jawa Timur, ditambah lagi dengan latar belakang Madrasah Aliyah yang biasanya
kesempatan terbesarnya adalah di perguruan tinggi islam. Cukup besar sebenarnya
rasa khawatir dan pesimis itu. Namun, aku mencoba yakin bahwa tugasku setelah
mendaftar dan memilih hanyalah berdoa dan berserah diri. Aku adalah orang yang
selalu berusaha yakin akan kekuatan doa dan hal inilah yang Alhamdulillah bisa
mengurangi rasa pesimisku dan membuatku semakin tenang.
Selama menunggu pengumuman, aku selalu berdoa semoga aku bisa diterima di ITS jurusan apapun itu, entah Teknik Lingkungan ataupun Kimia. Pokoknya ITS aja. Rasanya, saat itu aku sedang jatuh cinta dengan ITS. Isinya doaku, yaa cuman ITS. Di sisi lain, sambil menunggu hasil SNMPTN orang tuaku memintaku untuk mendaftar di sekolah kedinasan. Aku pun mengumpulkan informasi terkait sekolah kedinasan yang sekiranya aku bisa memenuhi persyaratan awal untuk mendaftar karena beberapa sekolah kedinasan memiliki persyaratan tinggi badan dan biasanya sih tinggiku ngga memenuhi syarat wkwk. Akhirnya, aku memutuskan untuk mencoba STIS dan STAN. (bersambung)
"Berdoalah, jangan sombongkan hatimu hanya dengan berusaha saja"-Mei
Comments
Post a Comment