Resahku part 1
Kamis, 5 April 2018
Rabu, 28 Maret 2018. Aku memutuskan untuk pulang ke rumah
disela-sela waktuku untuk mengerjakan skripsi. Kepulanganku kali ini terbilang
cukup mendadak dan tanpa rencana, karena awalnya aku akan pulang kalau aku
sudah seminar proposal. Nyatanya, sampai sekarang aku belum seminar padahal ini
sudah melebihi target waktu yang telah aku tentukan. Jujur saja, aku sebenarnya
sudah berusaha untuk bisa mengajukan seminar proposal bulan Maret, tapi
sepertinya Allah punya rencana lain sehingga aku harus mengubah rencana
seminarku yang entah kapan. Mulai dari dosen pembimbing yang terkadang susah ditemui, data industri yang kadang susah didapat, sampai revisi yang kadang cukup menyulitkanku. Orang tuaku selalu
mengingatkanku bahwa skripsi adalah sarana untuk belajar dan bukankah dalam
belajar kita memang harus bersabar, ikhlas, dan pantang menyerah. Aku pun meyakini bahwa setiap kesulitan yang kuhadapi termasuk skripsi ini adalah salah satu cara Allah untuk
melatih kesabaranku, keikhlasanku, dan semangatku. Walaupun kadang rasanya
lelah, kesal, dan bosan atau kadang rasa malas yang bertumpuk, tapi kurasa ini
adalah salah satu langkah yang baik dalam proses pendewasaan. Kunci mengerjakan skripsi itu
memang harus rajin dan sabar. Setidaknya, dalam sehari ada progress walaupun
hanya sedikit, karena itu bisa mendorong mood yang baik dalam mengerjakan
skripsi. Aku sendiri yakin bahwa Allah sudah menyiapkan rencana terbaik-Nya
untukku, menyiapkan waktu dan kondisi yang tepat untuk seminar dan sidangku,
dan yang harus kulakukan saat ini adalah terus memperbaiki proposal, menambah
pengetahuan terkait topik yang kuambil, dan menyiapkan diri untuk seminar. Kalo
kata ayah sih semua akan terjadi tepat pada waktunya, jadi kalau aku sudah
waktunya lulus, insyaAllah aku juga akan lulus, yang jelas terus dikerjakan dan
selalu berdoa.
Aku pulang naik kereta Malioboro
Express keberangkatan pukul 07.45 WIB. Alhamdulillah, perjalanan Allah
lancarkan dan aku sampai di stasiun sesuai dengan jadwal. Kali ini, ayah
sendiri yang menjemputku di stasiun. Ada satu hal yang membuatku terharu setiap
aku pulang adalah aku tak pernah menunggu jemputan karena ayah selalu
mengusahakan untuk sampai terlebih dahulu dari jadwal kedatangan keretaku.
Bahkan terkadang ayah menunggu dari 1 jam sebelum kedatangan kereta. Terutama
kalau aku naik kereta malam dan sampai di stasiun Tulungagung dini hari. Saat
aku keluar, pasti ayah sudah menunggu di dekat pintu keluar yang dipenuhi
dengan tukang becak dan ojek. Seperti biasa, mencium tangan orang tua dan
ciuman pipi kanan kiri adalah hal yang rutin kulakukan saat bertemu dengan
orangtuaku. Sambutan hangat keluarga dan masakan ibu yang sangat kurindukan
adalah momen yang sangat aku suka. Momen yang sangat aku rindukan dikala merasa
sepi saat di kos.
Kepulanganku kali ini tidak begitu lama. Tidak sampai
sepekan aku di rumah. Aku pulang hari Rabu dan balik ke Jogja hari Senin. Dalam
kepulanganku kali ini, ada beberapa hal yang membuatku merenung lama dan
kupikir kenapa aku baru menyadarinya sekarang. Aku merasa selama ini aku
benar-benar tidak peka dengan lingkunganku. Selama ini, aku hanya berpikir saat
aku pulang ke rumah yang kulakukan hanyalah menikmati moment-moment terbaik
bersama keluarga. Aku tak pernah berpikir untuk memperhatikan lingkungan
sekitarku secara jauh. Namun, entah kenapa kali ini aku mulai menyadari ada
sesuatu yang mulai berbeda di lingkunganku dan ini membuatku cukup resah.
Kurasa ini akan menjadi PR yang cukup besar dalam hidupku.
Hal pertama yang kurenungkan dan cukup
meresahkanku adalah kondisi masjid desaku yang mulai sepi akan pemuda. Sebelumnya,
Alhamdulillah aku sangat bersyukur, rumahku begitu dekat dengan masjid bahkan
tepat bersebelahan. Berjalan pun hanya beberapa langkah. Sehingga, cukup malu
rasanya jika kaki ini begitu malas melangkah ke masjid untuk sholat berjamaah. Padahal,
Allah memberikah kakiku kemudahan untuk melangkah, berjalan, bahkan berlari
dengan begitu kuat, tapi semangatku masih kalah dengan kakek yang rumahnya
begitu jauh dan beliau sudah melangkahkan kakinya ke masjid tepat saat adzan
berkumandang atau bahkan sebelum adzan. (bersambung)
"Hidupmu bukan untuk dirimu sendiri"-Mei

Comments
Post a Comment